BERITAKU, Kalimantan Tengah – Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, turut memberikan sorotan tajam dan keprihatinan mendalam atas insiden kecelakaan helikopter Mi-17V5 milik TNI Angkatan Darat (AD) yang terjatuh saat menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah.
Helikopter yang membawa delapan orang kru tersebut mengalami musibah di wilayah Pematang Limau, Kabupaten Seruyan, pada Rabu (4/11/2026), ketika tengah melakukan manuver pengambilan air untuk operasi water bombing.
Menanggapi bencana lingkungan yang merenggut nyawa aparat negara tersebut, Susi Pudjiastuti melayangkan desakan keras agar pemerintah tidak tinggal diam dan berani menuntut korporasi yang terbukti melakukan pembakaran hutan secara sengaja.
Menurut pengusaha penerbangan kawakan ini, karhutla tidak hanya menimbulkan kerugian ekologis yang masif, tetapi juga membebankan kerugian negara serta berdampak buruk langsung pada keselamatan masyarakat.
“Tuntut korporasi pembakar lahan dengan pidana dan ganti rugi kerugian negara, masyarakat dan lingkungan,” tulis Susi Pudjiastuti melalui akun X pribadinya, @susipudjiastuti, pada Rabu (4/11/2026).
Tidak hanya sebatas menuntut pemulihan kawasan hutan dan denda kerugian negara, Susi secara tegas meminta agar seluruh biaya operasional maupun kerugian materiel matra militer yang dikerahkan turut dibebankan kepada pihak korporasi.
“Termasuk helikopter ini pun dan biaya operasinya harus mereka ganti,” lanjut Susi menegaskan.
Pernyataan terbuka yang telah disaksikan oleh lebih dari 54 ribu pengguna media sosial tersebut langsung memantik gelombang dukungan luas dari warganet. Sebagian besar publik sepakat bahwa penegakan hukum terhadap korporasi harus mencakup seluruh aspek kerugian, termasuk jaminan kompensasi bagi keluarga prajurit yang gugur.
“Setuju Bu Susi, mereka harus ganti kerugian dari kebakaran hutan, penggunaan aset negara, termasuk relawan yang gugur pun harus mendapat kompensasi bagi keluarganya,” tulis akun X @aba*******z merespons cu tersebut.
“Sangat setuju karena ini kalau udah musim hujan, udah teratasi, dilupakan semua. Enggak bakal ada efek jera,” sahut akun X @ris*******7.
Di sisi lain, insiden tragis yang menimpa armada penerbad TNI AD pada Rabu (4/11/2026) tersebut menyisakan duka mendalam. Berdasarkan pembaruan data resmi, tiga orang prajurit dikonfirmasi gugur dalam tugas mulia ini setelah sebelumnya satu prajurit dilaporkan meninggal dunia saat proses evakuasi darurat.
Ketiga prajurit pahlawan lingkungan tersebut masing-masing adalah Letkol Cpn (Anm) Dudi Firmansyah, Kapten Cpn (Anm) Nurhafiz Akbar, serta Sertu (Anm) Heri Prasetyo.
Berdasarkan kronologi resmi TNI AD, helikopter tersebut mulanya lepas landas dari Kuala Pembuang sekitar pukul 09.55 WIB menuju kawasan Telaga Pulang guna melaksanakan misi pemadaman di area strategis Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).
Namun nahas, sekira pukul 11.18 WIB, armada udara tersebut mengalami kecelakaan saat tengah berupaya mengambil pasokan air di perairan Desa Sungai Perlu. Tim SAR gabungan yang menerima laporan langsung bergerak cepat melakukan operasi penyelamatan melalui jalur udara dan laut.














Komentar