Gelombang keluhan masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Baghraf Health Care (BHC) Sumenep, Madura, Jawa Timur, kembali mencuat ke permukaan. Kali ini, pengalaman pahit disampaikan oleh keluarga pasien pengguna fasilitas BPJS Kesehatan yang mengaku terabaikan saat membutuhkan penanganan darurat perawat.
Keluhan tersebut diungkapkan oleh AR (34), warga Kecamatan Ambunten yang meminta identitas anggota keluarganya dirahasiakan demi alasan kenyamanan. Ia menceritakan momen kekecewaannya setelah mendampingi keluarganya menjalani rawat inap selama tiga hari di rumah sakit tersebut.
“Yang dialami kami saat berobat di sana (RS BHC Sumenep, red) saat cairan infus pasien habis, tetapi tidak segera diganti oleh petugas medis,” kata AR kepada awak media, Senin (26/10/2026) pagi.
Menurut penuturan AR, pihak keluarga padahal sudah proaktif mendatangi dan memberi tahu petugas medis yang bersiaga mengenai kondisi tabung infus yang telah kosong. Namun, respons lambat yang diberikan oleh nakes membuat keluarga cemas dan kecewa selama masa perawatan.
Pasien yang dirawat tersebut sebelumnya masuk rumah sakit akibat menderita panas badan tinggi. Selama tiga hari menghuni ruang perawatan, keluarga menggantungkan harapan besar agar mendapatkan penanganan yang cepat dan responsif dari tenaga medis.
“Bangunan rumah sakit boleh bagus, tetapi kalau pelayanannya kurang baik, tentu pasien dan keluarga tetap kecewa. Pasien yang sedang menjalani perawatan membutuhkan perhatian dan penanganan yang cepat,” tegasnya mengkritik ketimpangan antara kemewahan fisik dan kualitas pelayanan.
AR menekankan bahwa mutu sebuah fasilitas kesehatan tidak sepantasnya hanya dinilai dari megahnya gedung. Kecepatan serta empati nakes dalam merespons panggilan pasien merupakan indikator utama dari standar pelayanan rumah sakit yang profesional.
Keluhan terbaru ini menyeruak tepat di tengah derasnya sorotan publik terhadap RS BHC usai inseden kematian santri muda asal Lenteng Timur, Moh. Firman Ramadhani (22), pada Selasa, 13 Oktober 2026 lalu.
Kematian almarhum Dani yang diwarnai gejala kejang hingga keluar busa dari mulut dan hidung tersebut hingga kini masih memicu desakan audit medis independen dari DPRD Sumenep maupun instruksi cek lapangan dari Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo.
Meskipun keluhan AR merupakan kasus berbeda yang tidak berhubungan langsung dengan insiden kematian Dani, dinamika ini menambah deretan catatan evaluasi bagi manajemen RS BHC terkait kepuasan pasien BPJS Kesehatan.
Guna memperoleh penjelasan berimbang mengenai SOP pemantauan infus dan mekanisme merespons laporan pasien, wartawan mendatangi RS BHC di Jalan Jokotole Lingkar Barat, Desa Babbalan, Kecamatan Batuan, pada Senin (26/10/2026) pagi.
Namun, upaya konfirmasi jurnalistik tersebut kembali membentur tembok tebal. Petugas keamanan rumah sakit bernama Abd Rachmat menghadang awak media dan melarang masuk ke area dalam gedung.
“Pimpinan kami ada acara di luar. Jadi, kami tidak mengizinkan (wartawan, red) masuk,” ujarny singkat menolak akses peliputan.
Hingga berita ini ditayangkan, manajemen RS BHC belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan penanganan infus pasien BPJS tersebut. Redaksi tetap memberikan ruang konfirmasi dan hak jawab secara terbuka demi menghadirkan informasi yang berimbang kepada publik.














Komentar