Mobilitas Tinggi dan Pernikahan Dini Jadi Tantangan Berat Penanganan Stunting di Sumenep

- Penulis

Jumat, 9 Oktober 2026 - 16:24 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Ilustrasi

Foto : Ilustrasi

BERITAKU, Sumenep — Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep mengidentifikasi dua faktor utama yang menjadi tantangan krusial dalam percepatan penurunan angka tengkes (stunting), yakni tingginya mobilitas penduduk serta maraknya kasus pernikahan usia dini.

Kondisi tersebut paling rentan ditemukan pada wilayah yang ditinggal oleh para ibu muda untuk bekerja di luar kota atau luar daerah. Fenomena ini berisiko membuat anak kehilangan pengasuhan langsung serta asupan nutrisi optimal sejak dini.

Kepala Bidang P2KB Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep, Ida Winarti, memaparkan titik-titik krusial penanganan stunting tersebut saat hadir sebagai narasumber dalam dialog interaktif Sumenep Menyapa di RRI Sumenep.

“Wilayah paling krusial adalah titik dengan mobilitas penduduk tinggi tempat ibu muda bekerja di luar daerah dan meninggalkan bayinya, serta maraknya pernikahan muda tanpa kesiapan fisik, mental, maupun ekonomi,” tegas Ida Winarti.

Langkah Strategis Intervensi Dinkes P2KB Sumenep

Guna menjawab tantangan sosial-demografi tersebut, Pemkab Sumenep mengencangkan intervensi berbasis komunitas dan teknologi:

Edukasi Catin melalui Aplikasi Elsimil: Mengoptimalkan pendampingan calon pengantin (Catin) untuk memastikan kesiapan fisik, mental, dan kesehatan sebelum memasuki jenjang pernikahan.

Penguatan Peran Organisasi Lokal: Menggerakkan kader Posyandu, PKK, dan tim pendamping keluarga (TPK) hingga tingkat desa untuk melakukan pengawasan ketat.

Kampanye ASI Eksklusif & Pangan Lokal: Mendorong pengasuh atau keluarga pengganti untuk tetap memprioritaskan pemenuhan ASI serta asupan MPASI berbasis bahan pangan lokal bergizi.

Ida mengingatkan bahwa nutrisi buatan tidak dapat menggantikan peran biologis dan nutrisi alami dari seorang ibu.

“Peran ibu tidak dapat digantikan oleh susu formula atau makanan siap saji, sehingga orang tua diharapkan mengutamakan ASI eksklusif serta membiasakan anak mengonsumsi bahan pangan lokal bergizi tinggi,” pungkasnya.

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel beritaku.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peringati Hari Parlemen 2026, DPRD Sumenep Gelar ‘Jalan Sehat Politik’ Bertabur Hadiah Rp100 Juta
Gandeng Komisi Informasi, DPC PKDI Sumenep Susun Standar Layanan Informasi Publik Desa
GMNI dan BEM Sumenep Gelar Mimbar Rakyat di DPRD: Tolak Perubahan Nomenklatur dan Tuntut KeberpihakaYn Pengelolaan Migas
Jangkau Wilayah Kepulauan, Pemkab Sumenep Integrasikan SIMPUS ke Ekosistem SATUSEHAT
Pastikan Akurasi Program Kesehatan Kerja, DKP2KB Sumenep Validasi Data PJ Kesjaor dan UKK Puskesmas
Partisipasi Posyandu Tembus 95 Persen, Angka Stunting di Sumenep Turun Signifikan Menjadi 11,2 Persen
BNNK Sumenep Gandeng Diskominfo Bekali Relawan Antinarkoba Literasi Digital dan Public Speaking
Sae Rassa Restaurant MYZE Hotel Sumenep Hadirkan Live Music dan Promo ‘Suki & Sushi’ Selama Oktober–November 2026

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 19:12 WIB

Peringati Hari Parlemen 2026, DPRD Sumenep Gelar ‘Jalan Sehat Politik’ Bertabur Hadiah Rp100 Juta

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:15 WIB

Gandeng Komisi Informasi, DPC PKDI Sumenep Susun Standar Layanan Informasi Publik Desa

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 10:57 WIB

GMNI dan BEM Sumenep Gelar Mimbar Rakyat di DPRD: Tolak Perubahan Nomenklatur dan Tuntut KeberpihakaYn Pengelolaan Migas

Jumat, 9 Oktober 2026 - 16:34 WIB

Jangkau Wilayah Kepulauan, Pemkab Sumenep Integrasikan SIMPUS ke Ekosistem SATUSEHAT

Jumat, 9 Oktober 2026 - 16:24 WIB

Mobilitas Tinggi dan Pernikahan Dini Jadi Tantangan Berat Penanganan Stunting di Sumenep

Berita Terbaru