BERITAKU, Sumenep — Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep mengidentifikasi dua faktor utama yang menjadi tantangan krusial dalam percepatan penurunan angka tengkes (stunting), yakni tingginya mobilitas penduduk serta maraknya kasus pernikahan usia dini.
Kondisi tersebut paling rentan ditemukan pada wilayah yang ditinggal oleh para ibu muda untuk bekerja di luar kota atau luar daerah. Fenomena ini berisiko membuat anak kehilangan pengasuhan langsung serta asupan nutrisi optimal sejak dini.
Kepala Bidang P2KB Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep, Ida Winarti, memaparkan titik-titik krusial penanganan stunting tersebut saat hadir sebagai narasumber dalam dialog interaktif Sumenep Menyapa di RRI Sumenep.
“Wilayah paling krusial adalah titik dengan mobilitas penduduk tinggi tempat ibu muda bekerja di luar daerah dan meninggalkan bayinya, serta maraknya pernikahan muda tanpa kesiapan fisik, mental, maupun ekonomi,” tegas Ida Winarti.
Langkah Strategis Intervensi Dinkes P2KB Sumenep
Guna menjawab tantangan sosial-demografi tersebut, Pemkab Sumenep mengencangkan intervensi berbasis komunitas dan teknologi:
Edukasi Catin melalui Aplikasi Elsimil: Mengoptimalkan pendampingan calon pengantin (Catin) untuk memastikan kesiapan fisik, mental, dan kesehatan sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Penguatan Peran Organisasi Lokal: Menggerakkan kader Posyandu, PKK, dan tim pendamping keluarga (TPK) hingga tingkat desa untuk melakukan pengawasan ketat.
Kampanye ASI Eksklusif & Pangan Lokal: Mendorong pengasuh atau keluarga pengganti untuk tetap memprioritaskan pemenuhan ASI serta asupan MPASI berbasis bahan pangan lokal bergizi.
Ida mengingatkan bahwa nutrisi buatan tidak dapat menggantikan peran biologis dan nutrisi alami dari seorang ibu.
“Peran ibu tidak dapat digantikan oleh susu formula atau makanan siap saji, sehingga orang tua diharapkan mengutamakan ASI eksklusif serta membiasakan anak mengonsumsi bahan pangan lokal bergizi tinggi,” pungkasnya.













Komentar