BERITAKU, SUMENEP — Desa Kebunagung, Kecamatan Kota Sumenep, sukses membuktikan diri sebagai salah satu desa percontohan unggulan di Kabupaten Sumenep.
Berkat keberhasilan mengintegrasikan potensi sejarah, wisata alam, serta penguatan ekonomi berbasis Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan UMKM, desa ini resmi dianugerahi status Desa Mandiri oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) RI.
Status bergengsi tersebut menjadi wujud pengakuan atas keberhasilan Pemerintah Desa Kebunagung dalam menghadirkan tata kelola anggaran yang inovatif serta pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Kepala Desa Kebunagung, Bustanul Affa, mengungkapkan bahwa wilayahnya tidak hanya dikenal sebagai kawasan Kompleks Asta Tinggi, tetapi juga menyimpan rekam jejak sejarah penting Sumenep.
“Di sini terdapat makam tokoh-tokoh penting seperti Asta Tumenggung Yudanegara, Asta Kangjeng Kiai Adipati Semarang (Suroadimenggolo V) yang merupakan mertua Sultan Pakunataningrat, serta para ulama dan pejabat kadipaten masa lalu,” terang Bustanul Affa, Jumat (24/7/2026).
Selain destinasi religi dan sejarah, Desa Kebunagung gencar bersolek menggarap potensi wisata alam. Destinasi unggulan seperti Goa Jeruk—yang dipercaya sebagai lokasi pertapaan Raja Sumenep Sultan Abdurrahman—terus dirawat. Sementara di kawasan Lembung Konyek, pemdes bersama warga menyulap aliran sungai menjadi wahana river tubing dan wisata air. Fasilitas pendukung seperti area outbound, bumi perkemahan, jembatan gantung, hingga kawasan bersantai panorama alam pun turut dibangun.
Pengembangan pariwisata ini berjalan seiring dengan penguatan ekonomi kerakyatan. Melalui BUMDes Kebunagung, unit usaha peternakan ayam petelur didirikan untuk menopang ketahanan pangan desa. Sektor UMKM warga juga mendapat panggung lewat pembangunan kawasan food court serta penyediaan lapak usaha di setiap RT sekitar lokasi wisata.
Bustanul Affa menegaskan bahwa keberhasilan Desa Kebunagung meraih predikat Desa Mandiri merupakan buah kolaborasi seluruh elemen—mulai dari tokoh masyarakat, karang taruna, hingga kelompok perempuan—dalam mengelola potensi lokal secara mandiri dan berkelanjutan.


