BERITAKU, Sumenep — Kerja keras Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) dalam menekan angka tengkes (stunting) membuahkan hasil positif. Pada tahun 2026, jumlah kasus stunting riil di Kabupaten Sumenep berhasil ditekan hingga tersisa 1.642 balita.
Capaian ini didorong oleh tingginya kesadaran masyarakat terhadap tumbuh kembang anak, yang ditandai dengan tingkat kehadiran balita di Posyandu mencapai lebih dari 95 persen, serta efektivitas aksi jemput bola tim pendamping.
Kepala Bidang P2KB Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep, Ida Winarni, menyampaikan capaian tersebut saat menjadi narasumber dalam program dialog interaktif Sumenep Menyapa di RRI Sumenep, Rabu (7/10/2026).
“Alhamdulillah, untuk tahun 2026 jumlah stunting riil kita berada di angka 1.642 balita dari total puluhan ribu balita di Sumenep. Keberhasilan ini tak lepas dari tingginya partisipasi Posyandu dan aksi partisipatif kunjungan langsung tim pendamping hingga tingkat bawah,” kata Ida Winarni.
Tren Penurunan Stunting Kabupaten Sumenep (2022–2026)
Prevalensi stunting di Kabupaten Sumenep mencatatkan penurunan konsisten dan signifikan dari tahun ke tahun berkat kolaborasi lintas sektor serta intervensi dari tingkat desa:
Tahun 2022: 29,7 persen
Tahun 2023: 21,6 persen
Tahun 2024–2025: 16,7 persen
Tahun 2026: 11,2 persen (tersisa 1.642 balita riil)
Ida menambahkan bahwa selain intervensi medis dan pendampingan kader, benteng utama pencegahan stunting terletak pada pola pengasuhan di tingkat keluarga.
“Kunci utama penurunan stunting tetap ada di dalam keluarga, khususnya peran aktif ibu dalam menerapkan prinsip asah, asih, dan asuh, pemberian ASI eksklusif, serta pemenuhan nutrisi MPASI yang kaya gizi,” pungkasnya.













Komentar