Partisipasi Posyandu Tembus 95 Persen, Angka Stunting di Sumenep Turun Signifikan Menjadi 11,2 Persen

- Penulis

Jumat, 9 Oktober 2026 - 16:11 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Kabid P2KB Dinkes P2KB Sumenep Ida Winarni (kanan) saat menjadi narasumber pada dialog interaktif 'Sumenep Menyapa' di RRI Sumenep.

Foto: Kabid P2KB Dinkes P2KB Sumenep Ida Winarni (kanan) saat menjadi narasumber pada dialog interaktif 'Sumenep Menyapa' di RRI Sumenep.

BERITAKU, Sumenep — Kerja keras Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) dalam menekan angka tengkes (stunting) membuahkan hasil positif. Pada tahun 2026, jumlah kasus stunting riil di Kabupaten Sumenep berhasil ditekan hingga tersisa 1.642 balita.

Capaian ini didorong oleh tingginya kesadaran masyarakat terhadap tumbuh kembang anak, yang ditandai dengan tingkat kehadiran balita di Posyandu mencapai lebih dari 95 persen, serta efektivitas aksi jemput bola tim pendamping.

Kepala Bidang P2KB Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep, Ida Winarni, menyampaikan capaian tersebut saat menjadi narasumber dalam program dialog interaktif Sumenep Menyapa di RRI Sumenep, Rabu (7/10/2026).

“Alhamdulillah, untuk tahun 2026 jumlah stunting riil kita berada di angka 1.642 balita dari total puluhan ribu balita di Sumenep. Keberhasilan ini tak lepas dari tingginya partisipasi Posyandu dan aksi partisipatif kunjungan langsung tim pendamping hingga tingkat bawah,” kata Ida Winarni.

Tren Penurunan Stunting Kabupaten Sumenep (2022–2026)

Prevalensi stunting di Kabupaten Sumenep mencatatkan penurunan konsisten dan signifikan dari tahun ke tahun berkat kolaborasi lintas sektor serta intervensi dari tingkat desa:

Tahun 2022: 29,7 persen

Tahun 2023: 21,6 persen

Tahun 2024–2025: 16,7 persen

Tahun 2026: 11,2 persen (tersisa 1.642 balita riil)

Ida menambahkan bahwa selain intervensi medis dan pendampingan kader, benteng utama pencegahan stunting terletak pada pola pengasuhan di tingkat keluarga.

“Kunci utama penurunan stunting tetap ada di dalam keluarga, khususnya peran aktif ibu dalam menerapkan prinsip asah, asih, dan asuh, pemberian ASI eksklusif, serta pemenuhan nutrisi MPASI yang kaya gizi,” pungkasnya.

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel beritaku.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Diduga Cekik, Tendang, dan Ancam Bunuh Istri, Pria di Pandian Sumenep Ditangkap Polresta
Peringati Hari Parlemen 2026, DPRD Sumenep Gelar ‘Jalan Sehat Politik’ Bertabur Hadiah Rp100 Juta
Gandeng Komisi Informasi, DPC PKDI Sumenep Susun Standar Layanan Informasi Publik Desa
GMNI dan BEM Sumenep Gelar Mimbar Rakyat di DPRD: Tolak Perubahan Nomenklatur dan Tuntut KeberpihakaYn Pengelolaan Migas
Jangkau Wilayah Kepulauan, Pemkab Sumenep Integrasikan SIMPUS ke Ekosistem SATUSEHAT
Mobilitas Tinggi dan Pernikahan Dini Jadi Tantangan Berat Penanganan Stunting di Sumenep
Pastikan Akurasi Program Kesehatan Kerja, DKP2KB Sumenep Validasi Data PJ Kesjaor dan UKK Puskesmas
BNNK Sumenep Gandeng Diskominfo Bekali Relawan Antinarkoba Literasi Digital dan Public Speaking

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 22:06 WIB

Diduga Cekik, Tendang, dan Ancam Bunuh Istri, Pria di Pandian Sumenep Ditangkap Polresta

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 19:12 WIB

Peringati Hari Parlemen 2026, DPRD Sumenep Gelar ‘Jalan Sehat Politik’ Bertabur Hadiah Rp100 Juta

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:15 WIB

Gandeng Komisi Informasi, DPC PKDI Sumenep Susun Standar Layanan Informasi Publik Desa

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 10:57 WIB

GMNI dan BEM Sumenep Gelar Mimbar Rakyat di DPRD: Tolak Perubahan Nomenklatur dan Tuntut KeberpihakaYn Pengelolaan Migas

Jumat, 9 Oktober 2026 - 16:34 WIB

Jangkau Wilayah Kepulauan, Pemkab Sumenep Integrasikan SIMPUS ke Ekosistem SATUSEHAT

Berita Terbaru