BERITAKU, Sumenep – Sikap manajemen Rumah Sakit Baghraf Health Care (BHC) Sumenep yang dinilai menutup diri dari kejaran wartawan dan publik kembali menuai kritik pedas. Praktisi hukum kenamaan Sumenep, Zamrud Khan, menyayangkan lemahnya transparansi rumah sakit swasta tersebut.
Sorotan tajam ini membuncah menyusul dugaan kejanggalan pada kasus kematian pasien Moh. Firman Ramadhani alias Dani. Pemuda asal Desa Lenteng Timur tersebut diduga meninggal dunia setelah mendapatkan tindakan berupa suntikan obat dari perawat RS BHC Sumenep.
Zamrud menegaskan bahwa keterbukaan informasi publik dari pihak rumah sakit sangat vital untuk menjawab spekulasi yang berkembang. Manajemen seharusnya memberikan ruang bagi jurnalis demi menjamin hak masyarakat mendapatkan berita yang berimbang.
“RS BHC yang tergolong rumah sakit baru di Sumenep harusnya terbuka kepada wartawan dan publik agar kasus ini transparan bukan menutup diri seperti ini,” kata Zamrud.
Ia sangat menyayangkan lambannya manajemen BHC dalam memberikan pemaparan komprehensif mengenai hasil investigasi internal. Menurut Zamrud, keterbukaan merupakan bentuk pertanggungjawaban moral dan hukum utama ketika nyawa pasien menjadi pertaruhan.
Tak berhenti di situ, Zamrud melontarkan sentilan menohok terhadap fasilitas fisik RS BHC Sumenep. Menurutnya, bangunan fisik yang megah tidak boleh sekadar menjadi pajangan tanpa diimbangi oleh profesionalitas medis.
“Percuma jugakan gedung seperti hotel tapi pelayanan berbanding terbalik, kalau seperti ini lebih baik berobat ke tempat lain meski bangunannya biasa saja tapi pelayanan bagus dan terbuka,” ujarnya.
Masyarakat membutuhkan kepastian keselamatan medis, bukan sekadar kenyamanan visual. Sikap tertutup yang ditunjukkan pihak rumah sakit justru dinilai memicu keraguan publik terhadap standar keselamatan berobat di tempat tersebut.
Hingga saat ini, pihak keluarga almarhum masih gigit jari menanti kejujuran hasil audit internal. Perwakilan keluarga berinisial Y menyebutkan bahwa rombongan manajemen sempat bertandang ke rumah duka pada Jumat (16/10/2026) lalu untuk meminta maaf, tetapi tanpa membawa kepastian medis.
“Mereka belum bisa menjawab. Kata mereka investigasinya belum selesai,” kata Y mengungkap kebuntuan informasi.
Penyebab medis kematian Dani secara pasti masih menyisakan teka-teki. Redaksi media ini terus membuka ruang klarifikasi dan hak jawab selebar-lebarnya bagi manajemen RS BHC Sumenep maupun perawat terkait demi menyajikan fakta yang utuh dan tepercaya.














Komentar