BERITAKU, Sumenep – Tepat sepekan setelah Moh. Firman Ramadhani alias Dani meninggal dunia di RS Baghraf Health Care (BHC) Sumenep, misteri penanganan medis pasien BPJS tersebut belum menemui titik terang. Upaya jurnalis meminta penjelasan langsung dari manajemen rumah sakit kembali menemui jalan buntu pada Senin (19/10/2026) pagi.
Kedatangan awak media di RS BHC Sumenep disambut oleh petugas keamanan setempat, Moh. Fauroq. Petugas sempat berkoordinasi ke dalam area lobi untuk mengecek keberadaan Humas RS BHC, Sandra Rahestri.
“Apakah sudah ada janjian, kami akan mencoba menghubungi Ibu Sandra,” kata Fauroq sebelum masuk ke ruang lobi rumah sakit, Senin (19/10/2026).
Namun, tak lama kemudian Fauroq mengabarkan bahwa jajaran manajemen RS BHC Sumenep telah bertolak ke Surabaya. Keberangkatan mendadak tersebut diklaim untuk memenuhi panggilan dari tokoh nasional asal Sumenep, MH Said Abdullah.
“Pihak manajemen dipanggil Buya Said, sudah berangkat, berikut jajarannya baru saja berangkat,” ujar Fauroq saat menemui kembali awak media.
Saat ditanya mengenai jadwal kepulangan jajaran pimpinan rumah sakit, petugas keamanan tersebut mengaku tidak memiliki kepastian waktu.
“Tidak tahu kalau itu, soalnya tidak menentu waktunya,” tambahnya.
Sikap tertutup ini memperpanjang penantian keluarga almarhum Firman di Desa Lenteng Timur. Sebelumnya, perwakilan keluarga berinisial Y membeberkan bahwa pihak rumah sakit telah berkunjung ke rumah duka, namun belum mau memberikan hasil audit medis.
“Mereka belum bisa menjawab. Kata mereka investigasinya belum selesai,” kata Y membeberkan hasil pertemuan tersebut.
Kondisi ini sejalan dengan kritik menohok dari tokoh hukum Sumenep, Zamrud Khan. Ia menilai RS BHC tidak boleh membiarkan persoalan keselamatan jiwa menggantung tanpa transparansi publik.
“Pihak rumah sakit BHC Sumenep ini bersifat tertutup, baik kepada publik maupun media. Padahal, dia menjalankan fungsi pelayanan kesehatan. Harusnya lebih terbuka, welcome kepada teman-teman media pers, sehingga tidak perlu muncul prasangka atau kecurigaan yang tidak baik,” kata Zamrud.
Zamrud juga mempertanyakan profesionalitas dan kualifikasi dokter yang menangani almarhum saat kritis.
“Ini ada pasien yang meninggal, apakah proses penanganannya itu secara maksimal? Itu yang pertama. Yang kedua, pada saat penanganan itu apakah ditangani oleh dokter-dokter yang kompetensinya berkaitan langsung dengan penyakit pasien,” tegasnya.
Upaya konfirmasi terpisah ke kantor Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep juga nihil hasil. Kepala Dinkes P2KB Sumenep, dr. Elliya Fardasah, dilaporkan sedang berada di luar kota sejak beberapa hari lalu.
“Di luar kota, sama keluarganya, sudah sejak beberapa hari yang lalu, dari Yogyakarta lanjut ke agenda lain,” tutur petugas resepsionis Kantor Dinkes P2KB Sumenep.
Hingga berita ini ditayangkan, baik manajemen RS BHC, MH Said Abdullah, maupun Dinkes P2KB Sumenep belum memberikan keterangan resmi mengenai hasil investigasi medis kematian Firman. Redaksi terus membuka ruang klarifikasi dan hak jawab demi menjaga keberimbangan informasi.














Komentar