BERITAKU, Sumenep – Perkembangan kasus meninggalnya Moh. Firman Ramadhani alias Dani (22), pasien BPJS yang mengembuskan napas terakhir di RS Baghraf Health Care (BHC) Sumenep pada Selasa (13/10/2026), kian memicu kehebohan di media sosial.
Unggahan terbaru dari akun TikTok “Kepo?” (@dihcuih6) kembali menyita perhatian publik. Akun yang diduga kuat milik kakak kandung almarhum tersebut membeberkan alasan utama mengapa ia memilih menghapus video cekcok panas antara keluarga korban dan perawat RS BHC yang sempat viral.
“kenapa saya ngapus vidio ini karena saya teringat dengan LUKA yang mendalam yang sangat menyayat hati ini,” tulis pemilik akun dalam unggahan bertanggal Senin (19/10/2026).
Sebelumnya, video rekaman amatir pertengkaran hebat antara keluarga pasien dan tenaga medis di ruang perawatan BHC sempat beredar luas. Momen perselisihan itu menyedot empati publik setelah Dani dinyatakan meninggal dunia secara mendadak.
Di kolom komentar unggahan terbarunya, pemilik akun menyuarakan keputusasaan keluarga yang hingga jelang peringatan 7 hari kepulangan almarhum belum juga menerima kepastian laporan audit medis dari pimpinan rumah sakit.
“Udh mau 7hari dr meninggalnya adekku masih belom ada kepastian dr pihak rumah skitnya,” tulisnya pilu menagih iktikad baik manajemen RS BHC.
Di tengah penantian keluarga akan hasil investigasi medis, jagat media sosial juga diwarnai polemik unggahan status WhatsApp dari sejumlah pihak yang mempertanyakan motif masifnya pemberitaan kasus BHC.
“RS BHC Kembali Tranding, Ini Tranding Untuk Pembenahan atau Untuk Penyelesaian? serius Nanya…,” bunyi salah satu tangkapan layar status WhatsApp yang beredar.
Bahkan, ada pula unggahan yang menyudutkan pemberitaan media dengan menuding adanya oknum penunggang kepentingan, seraya mengklaim pihak keluarga telah berdamai.
“Ada dugaan kepentingan lain dibalik kasus RS BHC, padahal oknum yang diduga korban sudah menerima dan memaafkan. #RS BHC Sudah Sesusi,” tulis akun tersebut.
Meski demikian, klaim perdamaian itu berbanding terbalik dengan pesan yang disampaikan pihak keluarga korban. Pihak keluarga bahkan mengisyaratkan siap menemui insan pers secara terbuka untuk membeberkan kronologi penanganan medis Dani yang sebenarnya.
Di sisi lain, beredar pula testimonial positif dari keluarga pasien lain yang mengaku puas atas keramahan fasilitas serta pelayanan perawatan RS BHC selama sembilan hari masa inap. Namun, munculnya kepuasan pasien lain tersebut dinilai tidak serta-merta menggugurkan kewajiban rumah sakit untuk menjawab kasus kematian Dani secara ilmiah.
Hingga berita ini ditayangkan, manajemen RS BHC Sumenep serta instansi terkait seperti Dinkes P2KB Sumenep masih memilih bungkam dan belum menyampaikan hasil investigasi resmi kepada publik.














Komentar